GAMBARAN UMUM LOKASI PRAKTEK
Oleh: Achmad Siddik Thoha, S.Hut. M.Si.
ARAS NAPAL
Letak dan Aksesibilitas
Aras Napal merupakan sebuah dusun yang berbatasan langsung dengan Kawasan Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL). Secara administratif, aras napal terletak di Desa Bukit Mas, Kecamatan Besitang Kabupaten Langkat Sumatera Utara. Dusun Aras Napal terbagi dua yaitu Dusun Aras Napal Kiri yang berada di sebelah kiri Sungai Besitang bila berangkat dari Hilir dan Dusun Aras Napal Kanan si sebelah kanan Sungai Besitang.
Aras Napal berjarak sekitar 125 Km dari Medan ke arah perbatasan Kabupaten Langkat dan Aceh Tamiang Propinsi Nangroe Aceh Darussalam (NAD). Lokasi hutan Aras Napal dapat ditempuh dengan mobil atau bus hingga di Tekong Pantai Buaya Desa Bukit Mas. Untuk menuju ke dusun Aras Napal perjalanan dilanjutkan dengan memakai boat/perahu mesin menyusuri Sungai Besitang sejauh 8 km atau sekitar 45 menit. Jalur lain menuju dusun Aras Napal yakni dengan menyebrangi sungai Besitang dengan getek (perahu penyebrangan) kemudian dilanjutkan dengan naik ojek (sekitar 20 menit) atau berjalan kaki (sekitar 45 menit) sejauh 4 km melintasi perkebunan sawit, ladang masyarakat dan batas hutan TNGL.
Kondisi Biofisik
Kawasan hutan Aras Napal termasuk dalam kawasan Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL), Seksi Besitang dan Resort Sei Betung. Di kawasan TNGL Aras Napal dijumpai hutan primer dengan keanekaragaman hayati yang sangat tinggi baik Flora maupun Fauna. Di hutan tropis ini hidup spesies satwa langka yaitu Orang Utan (Pongo Pigmeus), Gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus) dan beberapa satwa yang masuk dalam kategori satwa dilindungi seperti Kedih (Presbytis thomasi) dan Rangkong (Buheros rhinoceros).
Kawasan hutan di Aras Napal termasuk pada tipe Hutan Dataran Rendah dengan ketinggian antara 75-100 m. Kawasan hutan yang saat ini menjadi Kawasan TNGL dulunya adalah areal konsesi Hak Pengusahaan Hutan PT Raja Garuda Mas (Abdulhadi et al., 1987 dalam Priatna et. al. 2004). Topografi kawasan umumnya dataran landai hingga perbukitan yang landai hingga curam. Iklim di kawasan ini sangat basah tanpa bulan kering dengan tipe iklim A menurut Schmidt & Ferguson, dan hujan rata-rata tahunan sebesar 3500 – 4000 mm (Leuser Management Unit, dalam Priatna et. al. 2004)
Terdapat spesies flora endemik yang hanya ditemukan di hutan Sikundur dekat Desa Aras Napal yakni Daun Sang.( Johannestijsmania altifrons). Daun Sang Pertama kali ditemukan oleh Propesor Teijsman seorang ahli botani dari Belada. Menurut IUCN jenis tumbuhan ini telah masuk dalam Red Data Book sebagai jenis yang terancam punah. Daun Sang adalah termasuk keluarga Palmae, yang memiliki daun tunggal ukuran besar mencapai 3 meter panjang dan lebar 1 meter. Karena ukuran dan daunnya yang kuat, masyarakat setempat dahulu memanfaatkan untuk atap rumah. Jenis ini termasuk tumbuhan yang tidak tahan kena sinar matahari langsung (jenis toleran), lebih sering hidup dibawah naungan pepohonan. Hidup berkelompok membentuk rumpun namun penyebarannya sangat terbatas.
Topografi kawasan, didominasi oleh daratan yang landai hingga sedang. Sungai Besitang yang jernih khususnya saat kemarau membelah hutan dan menawarkan panorama indah. Kondisi Sungai Besitang saat ini nampak keruh airnya dan kanan kiri sungainya mengalami abrasi. Keruhnya air disebabkan dampak banjir Bandang yang terjadi pada akhir Desember 2006.
Kondisi Sosial Ekonomi
Secara umum masyarakat Aras Napal kiri didiami oleh mayoritas beretnis Jawa sumatera. Disamping itu, juga terdapat masyarakat dengan etnis Batak Tapanuli, Batak Karo dan Melayu di Aras Napal kiri. Sedangkan di Dusun Aras Napal Kanan dihuni oleh masyarakat dengan mayoritas etnis Batak Tapanuli.
Sebagian besar masyarakat Aras napal berprofesi sebagai petani. Kebun masyrakat dengan tanaman kakao, sawit dan tanaman semusim mendominasi lahan dusun yang berdekatan dengan Hutan. Sepuluh tahun lalu Aras napal dan Desa Bukit Mas terkenal sebaai daerah penghasil jeruk Pantai Buaya. Namun karena serangan penyakit, kini tanaman Jeruk Pantai Buaya tidak ditemukan lagi.
Sebagian besar lahan Desa Bukit Mas ditumbuhi tegakan kelapa sawit. Beberapa perkebunan besar milik swasta. Sedangkan kawasan dusun Aras Napal banyak menggantungkan hidupnya dari lahan pertanian di pinggir hutan TNGL. Sebagian masyarakat juga ada yang berprofesi sebagai pencari ikan, pengelola sampan/boat, pencari sarang walet, Gaharu dan damar
PULAU SEMBILAN
Aksesibilitas
Pulau Sembilan merupakan nama suatu Desa yang berada digugusan pulau-pulau di Kabupaten Langkat. Desa P Sembilan berdekata dengan selat malaka dan merupakan salah satu tujuan wisata utama di Kabupaten Langkat. P Sembilan secara Administrasi terletak di Kecamatan Pangkalan Susu Kabupaten Langkat. Desa ini dapat ditempuh dengan menggunakan kendaraan roda empat hingga pelabuhan penyebrangan di Pangkalan Susu yang terletak sekitar 90 km dari Kota Medan. Jarak PulauSembilan dengan ibu kota kecamatan p susu sejauh 6 km.
Setelah tiba di Pangkalan Susu, maka boat atau perahu penyebrangan dengan kapasitas maksimum 30 orang dapat mengangkut orang yang akan menuju P Sembilan. Dengan hanya membayar Rp. 3.000,- maka sampailah para penumpang perahu di Desa yang cukup terkenal luas di Sumatera Utara ini. Terdapat pulau yang bersebelahan dengan Desa P Sembilan yaitu Pulau Kampai (Gambar 1.) dimana terdapat tempat wisata alam yang indah yaitu Pantai Beraweh. Pantai Beraweh terkenal dengan pemandangan laut dan pasir putih yang khas dan ramai dikunjungi masyarakat lokal.
Kondisi Biofisik
Luas PulauSembilan 24,00 km2 atau 8.84% dari total luas kecamatan pangkalan susu. Di Pulau ini terdapat hutan mangrove yang mengelilingi pulau dan tumbuh ekosistem pesisir. Tanaman bakau, api-api, buta-buta, nipah bisa dijumpai dengan mudah di pesisir P Sembilan lahan pasang surut air laut. Selain itu dijumpai pula ekosistem lahan kering yang dimanfaatkan masyarakat untuk aktifitas pertanian tadah hujan maupun pengairan. Kondisi air tanah masih cukup baik dimana tidak ditemukan adanya air sumur yang asin atau terkena intrusi air laut.
Hutan mangrove yang masih tersisa di P Sembilan termasuk dalam hutan sekunder. Hutan yang masih tersisa tersebut tidak masuk dalam kawasan hutan negara, melainkan lahan milik mmasyarakat. Namaun, sebagian masyarakat memelihara tegakan mangrove khususnya yang terletak pada areal kawasan lindung seperti kanan kiri sungai dan tepi pantai.
Kondisi Sosial Ekonomi
PulauSembilan luas 24,00km2, jumlah penduduk 2.159 jiwa dan kepadatan penduduk 89,96 jiwa/km2, dengan rincian laki-laki berjumlah 1.107 jiwa dan perempuan 1.052 jiwa. Desa ini termasuk dalam klasifikasi desa swasembada. Mata pencaharian masyarakat antara lain petani, nelayan, kerajinan tangan dan pegawai negeri. (BPS, 2005)
Menurut BPS (2005) banyaknya tempat tinggal di desa ini sebanyak 275 rumah permanen, 95semi permanen, 205sederhana. Sarana pendidikan yang ada hanya satu Sekolah yaitu Sekolah Dasar. Masyarakat dengan mata pencarian pertanian sebanyak 250 KK, penggalian/tambang 13 KK dan konstruksi 4 KK.
eLuas berdasarkan penggunaan tanah, tanah sawah yaitu 198 ha, tanah kering seluas 346 ha, bangunan dan pekarangan seluas 63 ha dan lainnya 1793 ha.
Di P Sembilan tersebar pantai-pantai yang sabgat potensial untuk dikembangkan menjadi obyek Ekowisata. Sayangnya, potensi tersebut belum tergarap. Masyarakat masih tertumpu pada pengembangan budidaya ikan kerambah dan mutiara serta pengolahan kulit kerang.
DAFTAR PUSTAKA
Dephut. 2009. Identitas Flora dan Fauna. www.dephut.go.id/informasi/propinsi/SUMUT/ID_FloFauSumut.html [27 Mei 2008]
BPS. 2005. Kecamatan Pangkalan Susu dalam Angka. Badan Pusat Statistik KSK Pangkalan Susu Kabupaten Langkat. Langkat.
PRIATNA, D.; KARTAWINATA, K.; ABDULHADI, R. 2004. Recovery of a lowland dipterocarp forest twenty two years after selective logging at Sekundur, Gunung Leuser National Park, North Sumatra, Indonesia. Reinwardtia 12 (3): 237–255
Ditulis dalam Materi P3H
Tag: Aras Napal, Daun Sang, Mangrove, PULAU SEMBILAN, TNGL
Komentar Terakhir